Jauhilah Perbuatan Riya (Suka Pamer)


pancawara.com – Jauhilah perbuatan riya karena dapat menjadikan amalan sia-sia dan menghilangkan pahala, serta dapat menyebabkan kemurkaan dan hukuman Allah SWT. Rasulullah SAW telah menamakannya Syirik yang kecil.

Disebutkan dalam sebuat hadits shahih dari Nabi Muhammad SAW:

أَوَّلُ خَلْقِ ٱللهِ تَصْلَي بِهِ ٱلنَّارَ ثَلَاثَةُ: رَجُلٌ قَرَأَ ٱلْقُرْاۤنَ لِيُقَالَ إِنَّهُ قَارِيءٌ ، وَرَجُلٌ اِسْتَشْهَدَ وَمَا قَاتَلَ إِلَّا لِيُقَالَ إِنَّهُ جَرِيْءٌ ، وَرَجُلٌ لَهُ مَالٌ تَصَدَّقَ مِنْهُ صَدَقَةً لِيُقَالَ إِنَّهُ جَوَادٌ

Makhluk ciptaan Allah yang pertama kali akan dimasukkan ke dalam neraka ada tiga, yaitu seseorang yang membaca Al-Qur’an agar dikatakan bahwa ia adalah seorang qari’ (pembaca Al-Qur’an), seseorang yang mati syahid sedangkan tujuannya ikut berperang agar dikatakan bahwa ia seorang pemberani, dan seseorang yang memiliki harta lalu ia menyedekahkannya agar dikatakan bahwa ia adalah seorang yang dermawan.

Riya’ adalah sifat mencari kedudukan di kalangan manusia, dengan berpura-pura melakukan amalan yang semestinya digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, seperti shalat dan puasa.

Jika engkau merasakan adanya perasaan riya’ pada dirimu, maka janganlah engkau mencari jalan keluarnya dengan meninggalkan amalan itu, karena dengan demikian berarti engkau telah membuat setan gembira, justru engkau harus melihat, bahwa setiap amalan yang tidak dapat engkau kerjakan melainkan harus dilihat oleh manusia, seperti haji, jihad, menuntut ilmu, shalat berjamaah, dan hal-hal semisalnya, maka engkau harus melakukannya sebagaimana yang Allah SWT perintahkan kepadamu dan lawanlah hawa nafsumu serta mintalah pertolongan Allah SWT.

Adapun amalan yang bukan sejenis di atas, seperti puasa, bangun malam, sedekah dan membaca Al-Qur’an, maka di dalam menjalankan amalan ini engkau harus berusaha untuk menyembunyikannya, karena melakukannya di tempat yang tersembunyi lebih utama secara mutlak, kecuali bagi orang-orang yang terlindungi dari perbuatan riya’ dan agar amal yang ia lakukan bisa dijadikan sebagai panutan oleh masyarakat.

Sumber Kitab : Risalatul Mudzakarah Maal Ikhwanul Muhibbin Min Ahli hair Wad Din.

Karangan : Al-Imam Al-Qutb Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad.